PMK 53-2014 SBM 2015

0

PMK 53-2014 SBM 2015

HARI-HARI BESAR BIDANG KESEHATAN

0

HARI-HARI BESAR KESEHATAN

Tanggal 15 Januari : Hari Kanker Anak Sedunia
Tanggal 27 Januari : Hari Kusta Sedunia

Tanggal 04 Februari : Hari Kanker Sedunia

Tanggal 24 Maret : Hari Tuberkolosis Se- Dunia

Tanggal 07 April : Hari Kesehatan Se- Dunia
Tanggal 08 April : Hari Anak-anak Balita
Tanggal 10 April : Hari Meluas Malaria Se- Dunia
Tanggal 11 April : Hari Kanker Tulang
Tanggal 17 April : Hari Hemofilia Se- Dunia
Tanggal 18 April : Hari Diabetes Nasional
Tanggal 22 April : Hari Demam Berdarah
Tanggal 24 April : Hari Imunisasi

Tanggal 01 Mei : Hari Asma
Tanggal 08 Mei : Hari Palang Merah Se- Dunia
Tanggal 10 Mei : Hari Lupus Se-Dunia
Tanggal 29 Mei : Hari Lanjut Usia Nasional
Tanggal 31 Mei : Hari Tanpa Tembakau Se- Dunia

Tanggal 17 Juli : Hari Saka Bakti Husada
Tanggal 23 Juli : Hari Anak Nasional

Tanggal 01 Agustus : Hari Remaja Asia
Tanggal 01 – 07 Agustus : Pekan ASI Se- Dunia

Tanggal 15 September : Hari Peduli Limfoma se- Dunia
Tanggal 16 September : Hari Pangan Nasional
Tanggal 17 September : Hari Palang Merah Indonesia
Tanggal 24 September : Hari Jantung se- Dunia
Tanggal 28 September : Hari Rabies se- Dunia
Tanggal 30 September : Hari Hati Sedunia
Tanggal 04-12 September : Pekan Peduli Hepatitis B

Tanggal 09 Oktober : Hari Penglihatan se- Dunia
Tanggal 10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa se- Dunia
Tanggal 15 Oktober : Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) se- Dunia
Tanggal 18 Oktober : Hari Menopause se- Dunia
Tanggal 20 Oktober : Hari Osteoporosis se- Dunia/Nasional
Tanggal 24 Oktober : Hari Dokter Nasional

Tanggal 12 November : Hari Kesehatan Nasional (HKN)
Tanggal 14 November : Hari Diabetes se- Dunia
Tanggal 15 November : Hari Penyakit Paru
Tanggal 28 November : Hari menanam Pohon Indonesia

Tanggal 01 Desember : Hari AIDS se- Dunia
Tanggal 03 Desember : Hari Penyandang Cacat se- Dunia
Tanggal 05 Desember : Hari Relawan se- Dunia
Tanggal 20 Desember : Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional
Tanggal 22 Desember : Hari Ibu
Tanggal 27 Desember : Hari Kesatuan Gerak PKK
Tanggal 28 Desember : Hari Kusta se- Dunia

Yusril Vs Paloh, Media Darling Kontra Media Owner

0

www.inilah.com – nasional – Kamis, 23 Januari 2014 | 11:01 WIB

Jakarta – Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, politisi yang dijuluki Pakar Hukum Tata Negara, menyerang Surya Paloh. Serangan Yusril, sekalipun hanya melalui media sosial, twitter, tergolong berani.

Sebab yang dia serang, seorang politisi senior yang memiliki kemampuan menyerang balik. Bahkan sebagai pemilik Metro TV dan harian Media Indonesia, Surya Paloh lebih memiliki kekuatan. Ia bisa memaksimalkan dua medianya itu untuk menangkis bahkan melumpuhkan Yusril.

Dinilai berani, sebab selain menyerang terlebih dahulu, hal serupa juga dilakukan Yusril terhadap politisi lainnya seperti Wiranto (Hanura) dan Tjahjo Kumolo (PDIP). Semua ini mencuatkan persepsi, Yusril sedang ‘pasang badan’, merasa benar dan ‘nothing to lose’..

Hingga tulisan ini disusun, serangan Yusril, belum dibalas oleh Paloh. Namun besar kemungkinan Paloh tak akan diam. Cepat atau lambat bos Media Grup itu akan ‘membalas’ Yusril dengan caranya sendiri.

Paloh, bukan tipe politisi yang mau takluk atas serangan atau tantangan dari siapapun. Di pertemuan Forum Pemimpin Redaksi di Bali, tahun lalu, Paloh sempat diserang Dahlan Iskan. Tapi hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, situasinya sudah berbalik. Dahlan pun seperti meminta maaf kepada Paloh. Padahal peserta forum menduga, Paloh tak akan mampu mematikan serangan Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos Grup yang secara kasat mata jauh lebih kuat ketimbang Media Indonesia Grup.

Pihak yang mengenal Paloh melihat, tantangan Yusril sudah melewati koridor dan martabat yang dipelihara Ketua Umum Partai Nasdem itu. Kalau Paloh tidak segera berreaksi, boleh jadi ia sadar tak akan kuat melawan Yusril. Sebab domain hukum yang menjadi fokus serangan Yusril, bukanlah bidang yang dikuasai Paloh.

Sehingga boleh jadi Paloh sedang bersiasat bagaimana cara efektif melumpuhkan Mantan Menteri Hukum dan HAM tersebut. Paloh juga merupakan tipe politisi yang kepribadian dan karakternya merupakan gabungan antara yang berpikir secara kalkulatif bercampur dengan karakter risk taker.

Ketika amunisi dirasakannya belum cukup kuat, Paloh tak akan menyerang atau keluar dari ‘persembunyian’nya. Tapi begitu yakin akan apa yang terjadi kelak, Paloh tak segan bertindak, apapun risikonya. Hal ini sudah ditunjukkannya, melalui cara menghadapi Hary Tanoe, Aburizal Bakrie termasuk Presiden SBY.

Serangan Yusril terhadap Surya Paloh, terkait perbedaan sikap politik mereka berdua terhadap UU Pilpres. Maunya Yusril, Pemilu Legislatif yang sudah ditetapkan KPU dilaksanakan 9 April 2014 dan Pemilu Presiden 5 Juli 2014, diubah. Pelaksanaannya pada waktu bersamaan.

Kemauan Yusril tercantum dalam gugatan uji materi atau judicial review-nya ke Mahkamah Konstitusi. Mahkamah sudah mulai menyidangkan gugatan uji materi itu sejak Selasa 21 Januari 2014.

Paloh berargumentasi, perubahan agenda akan mengganggu penyelenggaraan Pemilu yang sudah berada ‘di depan mata’. Selain itu kata Paloh, jika gugatan Yusril dikabulkan Mahkamah Konstitusi, akan muncul jutaan Calon Presiden. Yang tidak dikemukakan Paloh secara eksplisit soal kekhawatirannya atas sikap dan posisi Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva.

Mantan anggota DPR-RI yang menjadi Ketua MK menggantikan Akil Mochtar itu, dikhawatirkan akan berpihak kepada Yusril. Pasalnya, Hamdan Zoelva merupakan kader Partai Bulan Bintang (PBB), partai yang didirikan oleh Yusril.

Oleh sebab itu serangan Yusril ke Paloh, sejatinya tidak bisa dilihat secara partial. Demikian pula penentangan Surya atas keinginan Yusril, tidak terbatas pada apa yang diucapkan.

Yang pasti perdebatan Yusril dan Paloh memang relevan dengan situasi politik saat ini. Perbedaan sikap mereka menarik untuk diikuti. Topik ini punya maginitude tersendiri.

Kalau Yusril memenangkan gugatannya, dia akan menjadi capres yang tidak mengeluarkan keringat banyak seperti Wiranto, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto. Ataupun Partai Demokrat yang sudah menggelar konvensi dan Partai Keadilan Sejahtera yang sudah menyelenggarakan Pemira (Pemilu Rakuyat).

Jika gugatan Yusril berhasil, maka kemenangan itu sama dengan keberhasilannya memenangkan sebuah lomba. Ia tidak mulai dari titik start, tetapi dari tikungan yang terakhir menjelang garis finis. Gugatan itu muncul kemudian disidangkan tiga bulan menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif.

Ini yang tidak dikehendaki Paloh atau mungkin juga politisi dari partai lainnya. Karena Paloh termasuk politisi yang sudah ikut dalam proses dan persyaratan peserta Pemilu 2014, sejak awal. Jadi secara sederhana bisa dikatakan pertarungan Yusril dan Paloh terletak pada strategi memenangkan Pilpres.

Akan tetapi melihat posisi Yusril dan Paloh, sejatinya mereka berdua sama. Mereka berdua tak beda dengan kebanyakan politisi yang senang menggunakan jargon: “demi hukum”, “demi konstitusi”, “demi kepentingan rakyat banyak”, dan sebagainya.

Padahal di balik “demi-demi” itu mereka sedang berbicara dan berjuang untuk kepentingan pribadi dan konstituen mereka sendiri semata. Dua-duanya sedang memangkas semua rumput penghalang yang mengganggu jalan raya menuju kursi RI-1.

Perbedaannya, hanya dalam soal cara dan artikulasi. Cara Yusril terkesan ‘lebih jujur’ dan lebih simpel sekalipun tersirat ada sikap arogan. Salah satu buktinya, Yusril tidak hanya menggugat UU Pilpres, tetapi juga sudah berkampanye sebelum mengajukan gugatan.

Ia sudah memasang fotonya di sejumlah baliho yang ditempatkan di jalan protokol. Satu di antaranya di Jl Tol TB Simaptupang. Baliho itu berpromosi tentang pencapresannya. Baliho itu mengesankan, Yusril sudah lolos secara proseduril untuk posisi capres.

Sedangkan Paloh, belum atau tidak menggunakan baliho. Ia lebih memaksimalkan liputan media miliknya tentang wacananya dan Nasdem soal kepemimpinan nasional mendatang. Masih samar-samar. Belum jelas, apakah dia juga mengincar posisi yang sama atau hanya mau menjadi “President Maker”.

Paloh juga tetap bersikap tidak mau menyebut siapa kira-kira yang akan diusung Partai Nasdem untuk menjadi capres di Pemilu 2014. Tetapi kalau dibuat semacam sinopsis, Yusril dan Paloh, sama-sama memanfaatkan media untuk kepentingan dan persaingan bagi posisi RI-1.

Keduanya sama-sama meyakini, peran media tetap penting dalam mengawal mereka menuju ke puncak kekuasaan di Indonesia. Bedanya, Yusril sebagai nara sumber yang vokal dan sering dikutip media, sedangkan Paloh, nara sumber yang paling kerap muncul di medianya sendiri.

Singkatnya Yusril seorang “Media Darling” dan Paloh sebagai “Media Owner”! Siapa politisi Indonesia yang mampu mengungguli mereka dan bukan siapa yang bisa menang di antara mereka berdua. [mdr]

UNDANG UNDANG No. 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

1

UU ASN

UNDANG UNDANG No. 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA ini diharapkan mampu mengurangi potensi penyalahgunaan wewenang pejabat di setiap instansi pemerintah. Sebab, pegawai negeri sipil (PNS) tidak lagi berorientasi melayani atasannya, melainkan masyarakat.

“Undang-undang ini menempatkan PNS sebagai sebuah profesi yang bebas dari intervensi dan politik,”

Download File UU No. 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

KPU antisipasi jadwal Pemilu jika PUU Pilpres Yusril dikabulkan MK

0

LENSAINDONESIA.COM: Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hadar Nafis Gumay menyatakan kesiapan KPU mengantisipasi dikabulkannya gugatan Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra ke Mahkamah Konstitusi (MK) tentang uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).

Dibalik kesiapannya tersebut, disampaikan Hadar, KPU mengharapkan agar Pemilu serentak dilakukan pada tanggal dimana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Juli 2014.

Baca juga: KPU siap patuhi putusan MK terkait PUU Pilpres yang diajukan Yusril

Hadar mengatakan, jika Pemilu serentak dilaksanakan pada tanggal dimana pemilihan legislatif (Pileg) dilaksanakan, KPU akan kesulitan melakukan berbagai persiapan antisipasi perubahan sistem Pemilu tersebut.

“Artinya, untuk dilaksanakan di bulan April itu menjadi sulit. Akan lebih mudah, lebih mungkin, kalau dilakukan sesudah itu. Misalnya, jadwal Presidennya bulan Juli, maka legislatifnya yang bergabung ke bulan Juli. Itu akan lebih pas,” ungkap Hadar kepada LICOM, di Gedung KPU Pusat, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Dikatakan Hadar, persoalan teknis semisal pada pengadaan logistik, membutuhkan waktu yang panjang dalam mempersiapkannya. Maka, jika permohonan Yusril dikabulkan oleh Hamdan Zoelva Cs (MK), dirinya mengharapkan Pemilu serentak tersebut dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014. Artinya, mengikuti tanggal pelaksanaan Pilpres.

“Tapi sekarang pertanyaannya, apakah itu bisa dilaksanakan dalam waktu dekat. Dalam waktu dekat itukan misalnya Pemilu legislatif kitakan tanggal 9 April, ini kan yang paling pertama kan. Ya itu kan menjadi kerepotan, mengapa? Berarti nanti ada nambah pemilihan Presiden. Kita ini kan berandai-andai ya. Berarti kan ada kebutuhan logistiknya yang nambah lagi dong,” tutur Hadar.

“Dan itu akan menjadi sangat sulit, karena logistik itu kan harus melalui proses tender dan sebagainya gitu, jadi kerepotan,” tambahnya.

Selain pengadaan logistik, Hadar mengungkapkan, bahwa sosialisasi kepada masyarakat juga berpotensi menjadi permasalahan tambahan.

“Dan masyarakat pun nanti jadi bingung menurut saya. Selama ini kan sosialisasinya,

Pemilu legislatif, Pemilu Presidennya setelah itu, jadi itu akan ada kerjaan yang berat juga,” ungkap Hadar.

“Dan masyarakat kan pahamnya juga tidak ada itu. Ah itu bagaimana kita bisa sosialisasikan lagi. Jadi akan merepotkan, kira-kira begitu,” tambah Hadar. @yudisstira

Go to Top